Lunettes
It’s nice to have a friend to face your day in this crazy world. Lucky Ms.beetlebug, she already got one :)
For better or worse, i do.

Have you ever say that sentence to your lover when he/she asked you, “do you love me?”

I bet you had. 

Now ask yourself, if someone ask you.. do you love Indonesia? 

Would that sentence be your answer? …

Saya adalah satu dari sekian orang yang bisa berapi-api menyuarakan betapa sayangnya saya pada negeri ini. Meskipun kadang disambut dengan tatapan aneh dan kernyitan dahi, perasaan itu terkadang begitu meluap sehingga saya tidak bisa menahan emosi yang seketika mengalir lewat kata-kata.

Minggu ini, cinta saya diuji.

Pemerintah sedang ‘menggoyang’ masyarakat lewat kebijakan harga bahan bakarnya. Berbagai pihak mulai menyebar desas desus, menggelontorkan opini dengan kepentingan terselubungnya. Broadcast message tentang wacana kerusuhan pun menghantui semua orang. Hubungan kami -saya dan negeri ini- menjadi semakin berat.

Topik tentang kondisi negara sangatlah tidak populer di kalangan sekitar saya. Semua orang seolah tak peduli dengan apa yang terjadi. Atau mungkin peduli namun tidak ingin kepeduliannya terlihat. Yang kami khawatirkan sebatas bagaimana kami pulang dari kantor di bilangan Sudirman, bagaimana menghindari gerombolan massa yang katanya makin tak terkendali dan bagaimana agar pekerjaan kami bisa tetap berjalan tanpa tersentuh imbas dari kisruh di luar sana. 

Saya pun terbungkam. Berusaha menjauhi topik itu karena tidak ingin menjadi alien di tengah manusia normal. Menyimpan rapat opini agar tidak mengalir membanjiri pembicaraan yang nantinya akan berakhir dengan kernyitan dahi. Toh pengetahuan saya pun tidak sedemikian besarnya. Tidak banyak data fakta yang bisa saya bagikan. Tatapan bosan dari lawan bicara membunuh luapan perasaan dan saya pun bersikap seolah saya tidak peduli.

I couldn’t help but wonder then..

Kalau saya yang hanya warga biasa tanpa kepentingan politik apapun bisa sedemikian mudah dibungkam oleh apatisme sekitar, bagaimana mereka yang berada di posisi penting? Mereka yang awalnya menyimpan sejuta api untuk ‘membenarkan’ negeri ini, membela warganya, namun kemudian bertemu mereka yang sibuk mementingkan diri sendiri. Apakah salah saat mereka yang ‘benar’ kemudian terseret arus kepentingan dan lupa akan cintanya pada negeri? Bisakah kita jamin, kita akan tetap ingat pada idealisme saat iming-iming kesejahteraan seumur hidup terpapar jelas di depan mata? We are all human, after all. 

Mahasiswa pun maju, meneriakkan orasi dan tuntutan mereka atas nama rakyat. Namun apa mereka ingat, saat teror tersebar dan setiap warga kurang mampu kehilangan penghasilan karena teror tersebut, mereka tak ubahnya seperti dewan rakyat, memeras rakyat tanpa belas kasihan.

what just happen here? 

where does the love goes?

“Do you love me?”, said Indonesia. 

i nodded. 

it ask again, “If you do, why you don’t do anything for me? Why did you keep your love inside and not doing anything to help me? Do you just love me in my glory days?”

i cant say a thing.

Lebih mudah memang menyuarakan cinta Indonesia saat timnas memenangkan pertandingan, saat kelompok pelajar membawa pulang penghargaan ilmiah atau saat film Indonesia masuk sebuah festival bergengsi. The glory days. Cinta itu akan tersembunyi rapat di masa seperti ini. Masa dimana pesimisme dan apatisme menyelimuti masyarakatnya. Masa dimana negri ini paling membutuhkan dukungan. 

Karena itulah tulisan ini ada. Untuk membuktikan bahwa saya tidak malu berbicara banyak. Saya mungkin bodoh, mungkin naive, mungkin over optimis. Namun saya cinta negri ini. Dan saya ingin berteriak lantang membelanya. 

Lupakan wakil rakyat, lupakan pemerintah. Kita -saya, kamu dan semua orang dengan penghasilan cukup- bisa melakukan sesuatu untuk membuat semuanya lebih baik. Help others. Lakukan subsidi silang untuk mereka yang kurang mampu. Tahu asisten rumah tanggamu punya anak yang putus sekolah, jangan diam saja. Cari tahu berapa yang ia butuhkan agar anak itu kembali sekolah. Merasa kurang bisa membantu seorang diri? Ajak teman lain. Dengan begitu kita baru saja menyelamatkan seorang anak dari kebodohan. Jika setengah dari Jakarta melakukan hal yang sama, bayangkan berapa banyak anak akan selamat dari kebodohan. Dan betapa lebih cerahnya nasib bangsa ini karena calon pemimpinnya di masa depan bertambah. 

Tidak perlu berpikir terlalu kompleks, memikirkan bagaimana mengurangi angka kemiskinan yang jumlahnya jutaan pasti membuat pening. Memikirkan nasib perpolitikan yang dihuni manusia-manusia haus kuasa hanya bikin emosi. Lupakan kondisi itu. Lihat dan sentuh mereka yang ada di sekitar kita. Mereka yang setiap hari kita temui, yang kita tahu berhak akan kehidupan yang lebih mudah.

Mulai dari diri sendiri, itu yang sedang saya lakukan. Dan kemudian saya harap kalian semua lakukan.

Biarlah mereka diatas sana berteriak berebut kuasa, bila kita kuat dan membantu mereka di sekitar kita menjadi kuat juga, pemerintah tak ubahnya hanya badut yang digerakkan oleh motor ambisi. 

Believe me, it doesnt cost you much to care. Nggak akan semahal biaya sepatu, tas atau nongkrong di tempat bir dalam sebulan. Nggak akan semahal jersey bola klub favorit yang kalian sayang setengah mati. Nggak semahal biaya pacaran. And again, you can always ask your friend to do the same thing. 

Do whatever you are able to do.

Small things, big impact.

Tidak perlu mencari yang jauh, mulailah dari mereka di sekitarmu. Be the difference you wish to see. Do it with your heart. Do it for your country. 

Jadi saat siapapun bertanya, “do you love your country?”

kita akan bisa menjawab dengan yakin, “For better or worse, i do”.

“It’s just a moment. This time will pass”

I’m not afraid

Of anything in this world

There’s nothing you can throw at me

That I haven’t already heard

I’m just trying to find

A decent melody

A song that I can sing

In my own company

I never thought you were a fool

But darling, look at you.

Ooh. You gotta stand up straight, carry your own weight

‘Cause tears are going nowhere baby

You’ve got to get yourself together

You’ve got stuck in a moment

And now you can’t get out of it

Don’t say that later will be better

Now you’re stuck in a moment

And you can’t get out of it

I will not forsake

The colors that you bring

The nights you filled with fireworks

They left you with nothing

I am still enchanted

By the light you brought to me

I listen through your ears

Through your eyes I can see

You are such a fool To worry like you do..

Oh I know it’s tough

And you can never get enough

Of what you don’t really need now My, oh my

You’ve got to get yourself together

You’ve got stuck in a moment

And you can’t get out of it

Oh love, look at you now

You’ve got yourself stuck in a moment

And you can’t get out of it

Oh lord look at you now

You’ve got yourself stuck in a moment

And you cant get out of it

I was unconscious, half asleep

The water is warm ‘til you discover how deep

I wasn’t jumping, for me it was a fall

It’s a long way down to nothing at all

You’ve got to get yourself together

You’ve got stuck in a moment

And you can’t get out of it

Don’t say that later will be better

Now you’re stuck in a moment

And you can’t get out of it

And if the night runs over

And if the day won’t last

And if your way should falter

Along this stony pass

It’s just a moment

This time will pass

Stuck In a Moment - U2

What happens in 2011 (does not) stay in 2011!

Posting ini harusnya ditulis di awal Januari kemarin, tapi harap maklum, saya yang hobi tunda-tundanya lebih besar dari celengan semar ini dari kemarin nemu aja alesan buat nunda nulis.

2011 has been a remarkable year for me. Mulai dari menemukan titik nyaman di pekerjaan, lompat-lompat kesana kemari ngurusin berbagai program, starting a new sweet relationship sampai dihadapkan pada kenyataan untuk meninggalkan titik ternyaman dalam hidup, (work wise and relationship wise). Duuh, belum cerita aja udah berasa drama ini hidup :p

Tapi bener lho kata orang, you are what you’re going through (ini kata orang apa kata lo sendiri len??) Maksudnya, personality dan keputusan yang kita ambil sekarang pasti berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup kita kemarin-kemarin, toh?!

This is how i remember what happened in 2011, things that make me who i am right now. Because what happens in 2011 surely does not stay in 2011..

@ReneCC: @LennDm A job would not love you back. Use things and love people. Do a great job, contribute and live a life that matters to you” (via twitter, January 8th 2011)

Saya ingat waktu itu sedang ada di tengah macet dan membaca timeline dari Rene Suhardono soal karir dan pekerjaan. Waktu itu, saya sedang semangat-semangatnya menunggu program baru untuk dikerjakan setelah Indonesia’s Got Talent. Yes, i was their PR & Promotions person. Program yang mungkin buat sebagian orang ga begitu penting, tapi buat saya value nya sangat besar karena disitulah saya bertemu keluarga baru dan jadi bagian dari FremantleMedia. I work 24/7 for about 4 months and yet still manage myself to some fun time. I love my job jadi kalimat pamungkas untuk menangkis rasa khawatir keluarga saat melihat saya sakit dan kurang istirahat karena pekerjaan ini. My life back then was all about work and work.  

“Laughing till you’re coughing could only happens when your friends are as special as @cinputri & @aipmaulana” (via twitter, February 17th 2011)

In FremantleMedia, the job was not the only thing I love. I love the friendship even more. Saya bisa pulang lewat tengah malam hampir tiap hari karena shooting, bisa bablas ga nonton film terbaru apapun di bioskop, tapi nggak sehari pun saya lewati tanpa haha hihi gila dengan mereka. I found my new family. Kami punya rutinitas nggak sehat yaitu selalu lebih focus menyelesaikan pekerjaan di atas jam 7 malam atau ngobrol ngalor ngidul sampe ngakak sampe lewat tengah malam. Bahayanya lagi, hobi dan selera makan yang sama bikin kami semua jadi pelanggan tetap Takigawa Sushi Kemang yang selalu buka sampai jam 3 pagi itu. Pembicaraan bersama mereka selalu luas. Mulai dari pekerjaan, percintaan, current issue, film, music, sampai rencana masa depan. Komplit lah istilahnya. My life was all about work and my crazy yet very loveable co-workers, thanks to @cinputri @aipmaulana @babyrien @emmadjalal @cicaclarissa @gloriousmommy @m155dede @rudiefe and every other member of sushi night :p

“ April tahun depan aku nikah :D” (via twitter, March 03rd 2011)

Remember when I said earlier that I was in a sweet relationship? Walau ada jarak yang ga dekat dan komunikasi yang cuma bisa dilakukan via email atau skype, it was the sweetest relationship I ever had (you in reading, you know it’s you). Saking manisnya, saya sampai ga ragu bilang kalau April tahun depan mau nikah. HAHA! Along the way, the relationship just not works. But we remain friends, and I didn’t take that statement back. Maksudnya sih sekalian doa gitu. Siapa tahu April tahun ini beneran nikah. Mari amini bersama-sama.. Terimakasih! HIHIHI.

“My another baby is about to be born. I don’t mind, let’s do whatever it takes. Bismillah..” (via twitter, April 29th 2011)

Saya lupa sih persisnya hari itu press conference atau siaran perdana MasterChef Indonesia. Intinya mah saya yang selalu menganggap semua program yang saya tangani itu kayak bayi sendiri, girangnya setengah mati waktu terlibat di program ini. MasterChef was a hit. Semua orang sedang tergila-gila sama kompetisi masak yang lagi wara wiri di TV cable ini. Dikerjakan bersama televisi yang sudah biasa mengerjakan program besar, excitement nya pun menjadi-jadi. Semua kerepotan saya rasakan seperti tantangan. Masa sih di Negara lain bisa sukses di Indonesia nggak bisa? Begitu pikiran saya saat itu. I am beyond ready to work my ass off for this program. 

“And we are now a worldwide trending topic on twitter. Alhamdulillah.. Our baby is born guys! *calling all #masterchefindo crew!*” (via twitter, May 1st 2011)

The Social Media Girl, itu julukan saya di FremantleMedia dulu. Semua program punya twitter dan fan page nya sendiri, dan semua itu jadi salah satu tanggung jawab saya. Nggak peduli libur atau hari kerja, siang malam, nonton konser atau lagi bed rest, handphone yang diisi berbagai twitter aplikasi ga pernah lepas dari tangan. Saya bahkan sempat di email twitter.com dan disangka spam saking agresifnya saya nge tweet lewat akun program. Dan waktu tanggal 1 Mei 2011 MasterChefIndo jadi trending topic, widiih.. senengnya melebihi seneng makan salmon sashimi 3 piring deh. Walau banyak komentar negative dari kanan-kiri, kenyataan bahwa mereka memperhatikan dan tetap nonton jadi kepuasan tersendiri. Thank you lovers and haters!

“ #rindu itu menuju rumah saat saya yakin semua org tersayang sdh tertidur lelap” (via twitter, June 17th 2011)

Nggak terhitung berapa kali Popsky menceramahi saya soal jam kerja, berapa kali momsky bilang kangen dan dua adik berandalan saya yang ga bisa diem itu protes karena ga pernah sempet ngobrol bareng saya. Bukan cuma itu, frekuensi ketemu dengan sahabat-sahabat di luar kantor pun bisa dihitung pake jari. Gimana bisa ketemu kalau kerja dari pagi sampai pagi dan ga punya hari libur. Momsky pernah sangat khawatir ketika saya jadi sering migraine dan pernah ketiduran dengan sukses di sofa saking ga punya tenaga untuk naik ke kamar. Saat itu saya meyakinkan beliau bahwa ini yang saya mau, pekerjaan ini yang saya cintai. Meski sebenarnya setiap berada di taksi lewat dari jam 12 malam menuju rumah, rasa kangen ngobrol dengan mereka kadang membuat saya mau nangis. I hold it all back, for the sake of my passion.

“A chance not necessarily appears as a new door. Sometime it’s an open window and the urge to jump out” (via twitter, July 4th 2011)

It’s a blessing in disguise. Disaat saya merasa nyaman setengah mati di tempat ini, saat saya menghiraukan semua permintaan keluarga untuk berpikir ulang tentang jam kerja, saat itu pula keputusan ini datang. I have to move on. Rasanya seperti di dorong keluar dari jendela, dipaksa untuk menghadapi dunia luar lagi. I am devastated. Not because I have to leave the job, but mainly because I have to leave my new family, my best friends, my super comfort zone. Tapi seperti yang saya bilang waktu itu, kesempatan kadang datangnya ga kayak pintu yang emang kita cari, tapi bisa juga kayak jendela yang akhirnya memaksa kita untuk lompat keluar tanpa tahu akan mendarat dimana kita nantinya. I had jumped out of my window.

“Someone said, a dream is cute when you’re 8, inspiring when you’re 17 but pathetic when you’re nearly 25. I said, only loser think that way” (via twitter, August 17th 2011)

It’s nearly my 25th birthday and some people seem too tired to hear me blabbing about my lifetime dreams. Me, on the other side, is a stubborn dreamer. Kenyataan akan berusia seperempat abad nyatanya nggak membuat gairah menulis berhenti seketika, nggak juga menghambat aliran darah ke jantung setiap saya bercerita panjang lebar soal keinginan untuk punya sekolah gratis. Saya masih punya daftar panjang hal yang mau saya lakukan sebelum tua. Mengejar mimpi itu membuat hidup saya punya warna lebih dari sekedar mejikuhibiniu,  I’m a natural dreamer and I never ashamed to admit it. It’s making me alive.

“Don’t ever give up dreaming. It makes you a complete human. It makes every struggle worth the pain” (via twitter Sept 30th 2011)

So I was ended my contract with Fremantle on early August. Start working in a new place on August 15th (kalo nggak salah :p). Pekerjaan baru ini penuh tantangan banget, terutama untuk otak (karena ada itung-itungannya book!). Selain itu, suasana kantor yang cenderung datar ternyata nggak membuat hati nyaman. Setiap hari ke kantor sambil ngitung waktu kerja, berharap hari itu cepat selesai dan bisa ketemu temen-temen untuk cuwawakan di luar. The salary is good, the company is also good, but I feel empty somehow. Setelah melalui banyak pertimbangan, saya putuskan untuk mundur dari kantor dan menerima pekerjaan lain yang lebih masuk ke hati. Kalau dihitung pake skala untung rugi, jelas rugi pilih perusahaan yg kedua ini.. tapi kalo dihitung pake skala cinta-cintaan, pekerjaan di tempat baru lebih dekat ke passion hidup. Lebih ngena di hati begitu. Then I move out, again.

“Pindah kerja ga hanya butuh upgrade stationary. Kecepatan otak & kemampuan multitask jg hrs ikut diupgrade” (via twitter Oct 6th 2011)

GILAK! Itu kata yang paling pas menggambarkan kerjaan di tempat baru. Title nya sih keren, MarComm Executives, tapi to do list nya panjang beneeer.. Baru dua hari masuk terasa keteteran sama semua printilan yang harus diselesaiin. Frankly speaking, I was surprised on how fast things run at the new company. Apalagi industry nya jauh dari pertelevisian dan media. Makin terasa deh tuh harus belajar sambil ‘bermain’nya. I feel gifted though. I have a good leader, loveable new friends and new challenging tasks. Bulan oktober penuh darah dan airmata lah, kalo boleh pinjem istilah klasik tahun 90an :p And miraculously, I managed to survived. Biarpun tiap hari selalu ada moment pengen jambak rambut orang saking pusingnya (kalo jambak rambut sendiri makin pusing dong.. HE!), tapi pembelajaran yang diterima juga banyak. The more I learn, the more I love it.

Sometimes your heart play a tricky game and forget to put your mind as one of the team member” (via twitter Nov 2nd 2011)

It might look like I don’t care, but the truth is, I care too much. That’s one of my weaknesses. Not going to write any further about this

“Yg menyenangkan sekaligus paling susah adlh menikmati apa saja yg diberi Tuhan utk hidup kita. Km bisa? Sy msh blajar, msh di level paling dasar” (via twitter Dec 30 2011)

2011 goes so fast. Rasanya baru kemarin saya dan teman-teman berbagi gambar liburan tahun baru di bbm grup, tapi tiba-tiba kami sudah ada di penghujung tahun lagi dan terpisah jauh. Tahun lalu yang diwarnai haru biru karena baru selesai mengerjakan program bersama, tahun ini diganti dengan kangen karena sudah nggak ada di kantor yang sama lagi. Satu yang nggak berubah di tahun kapanpun, saya masih jadi saya yang lebih ingin banyak tertawa daripada menangis. Masih saya yang cengegesan. Masih cinta deretan kata dan betah marathon fim. Masih saya yang belajar bersyukur dan mengurangi keluhan.

—————————————————————————

People change, they say.

I say, people learn.

Hanya mereka yang belajar yang akan mengalami perubahan. Let’s be happy in this 2012 year. Let’s seize the day and smile more

Happy (one day before) Valentine!
Remember, the truth is out there! :p

XOXO
brain-food:

Humble Beginnings — Help Ink
theme by phrenesis